Saat Teman Dikejar ‘Seseorang’

Sebelum mulai cerita, saya perkenalkan tokoh dalam cerita ini :

  • A = Saya
  • B = Teman satu kost si A
  • C (korban) = Teman sekelas si B, kenal dengan si A
  • D (tersangka) = Teman si C, kenal juga dengan si B, tapi gak kenal dengan si A

Semua tokoh di atas adalah laki-laki.

Ini cerita paling menjijikan sekaligus paling menakutkan. Bagaimana tidak, saya berjabat tangan dengan seorang lelaki penyuka sesama jenis, alias maho. Lho kok bisa ?. Begini ceritanya:

Suatu hari si B bercerita pada si A tentang si C yang dikejar-kejar oleh seseorang, sebut saja si D. Si A agak tidak percaya dan hanya bisa geleng-geleng kepala plus merinding mendengarkan cerita tersebut. Kata si B, awalnya si D adalah orang yang baik pada si C. Dia sering mentraktir si C makan, sampai menenami si C nonton bareng konser musik. Katanya, saat itu si C tidak menaruh curiga kepada si D. Namun pada akhirnya si C tahu bahwa si D bukan lelaki normal. Si D adalah lelaki penyuka sesama jenis, alias maho. Lha kok si C tahu ? yap, karena si D pernah mengajak si C untuk check-in ke hotel berdua. *jijik*. Dan saat itu si C dengan sebisa mungkin menjauh dari si D, baik dengan cara halus maupun cara kasar.

Sebelum identitas asli si D terbongkar, si B pun ikut kenal dengan si D karena si B adalah teman baik si C. Si B pun mengaku beberapa kali bertemu dengan si D, dan memang si D adalah orang yang baik.

Cerita terus berlanjut, namun ada hal yang membuat si A khawatir. Si A khawatir karena si D pernah bilang ke si B bahwa dia ingin main ke kosan si B. Nah, wajar kalau si A khawatir karena si A dan si B adalah teman satu kost.

Kekhawatiran pun terjadi ketika entah bagaimana caranya, si D bertemu dengan si B. Si D ingin berkunjung ke tempat kost si B. Si B yang awalnya menolak merasa tidak enak dengan si D, dan akhirnya si B mau gak mau mengajak si D berkunjung ke kostnya. Saat itu kebetulan si A juga sedang ada di tempat. Dan akhirnya mereka bertiga bertemu. Dan si A kaget plus khawatir karena mau gak mau harus berkenalan dan bersamalan dengan seorang maho. Si A berharap tidak pernah bertemu lagi dengan si D. Dan harapan itu terkabul.

Kalau ingat pengalaman itu, jadi ngakak sendiri. Bayangkan kalau itu terjadi kepada anda. Saran saya kalau nemu kejadian seperti ini, tetap tenang dan berdoalah. Tetap berhati-hati, karena yang begitu sekarang nampaknya sudah merajalela.

Jangan Alergi Sama Programming

Programming merupakan salah satu amalan wajib bagi semua mahasiswa ilmu komputer, tak peduli dik maupun non-dik. Setidaknya sampai tingkat I, saya pribadi sangat minim pemahaman maupun kemampuan di programming. Bahkan sama sekali tidak berminat untuk mendalaminya. Awalnya sih gak suka tapi semua berubah saat negara api menyerang sampai akhirnya hidayah itu datang. *lebay

  1. Ucapan Teman
    Teman yang satu ini seangkatan, tapi non-dik. Kurang lebih begini yang dia katakan : “Kalau kuliah di ilkom mau gak mau ya harus bisa programming”. Ringkas tapi padat. Apalagi dia bicaranya sambil senyam-senyum.
  2. Motivasi dosen
    Beliau adalah dosen salah satu mata kuliah di semester III. Cara mengajarnya lugas, tegas dan dapat dipahami. Beliau terkenal karena tugas besarnya. Tugas besar tersebut harus dikerjakan menggunakan PHP dengan requirement tertentu. Saat itu walau sangat minim pengetahuan dan kemampuan tentang itu, namun kami tertantang untuk menyelesaikannya.
  3. Computing curricula IEEE
    Makin tersadar ketika membaca tulisan ini: http://romisatriawahono.net/2009/04/13/wajibnya-skill-coding-bagi-mahasiswa-computing/. Ternyata apa pun jurusannya, baik TI, Ilkom, SI, Teknik Komputer, dll, selama itu adalah jurusan komputing maka hukumnya fardu ain untuk memahami programming. Bahkan penulisnya menyuruh bertobat pada mahasiswa komputer yang tidak bisa coding. waduh.
  4. Motivasi teman
    Ini mungkin faktor personal. Mungkin karena dulu termasuk orang yang sensitif. Saat itu ada teman yang memandang sebalah mata, mencibir, atau under estimate. Saya anggap semua itu adalah lecutan motivasi. Tekad pun membahana untuk membuktikan pada mereka bahwa suatu saat pasti bisa, seperti mereka. Paling tidak, agar tidak alergi sama programming.
  5. Mengetik Buta
    Awalnya saya kira hal tersebut mustahil dah hanya bisa dilakukan oleh orang super jenius. Tapi itu salah. Semua orang bisa melakukannya, tak ada kaitannya dengan kecerdasan. Saya belajar mengetik buta menggunakan game Typer Shark. Hasilnya lumayan, tidak ada lagi istilah lelah mata untuk bulak-balik mengintip kibord ketika mengetik. Dan itu cukup meningkatkan percaya diri.

Pada akhirnya saya sadar bahwa untuk memahami sesuatu (dalam hal ini programming), hal pertama yang harus ditumbuhkan adalah kesadaran bahwa hal tersebut itu adalah penting. Setelah itu, belajarlah sesuka hati.

Cara Mendapatkan Nilai ‘C’

Walau demikian saya tetap yakin bahwa nilai bukanlah segalanya, namun hanya dengan nilai yang baguslah orang tua di rumah percaya bahwa anaknya belajar dengan benar di universitas.

Ini kejadiannya ketika semester I dan semester II. Oke saya ceritakan dulu yang semester I. Di semester ini kami harus mengambil mata kuliah berbau MIPA, yaitu Matematika Dasar, Fisika Umum, Kimia Umum, dan Biologi Umum. Itu semua mata kuliah wajib, mau tak mau harus mau. Sebenarnya tak ada masalah bagi saya tentang keempat mata kuliah tersebut, kecuali satu, Fisika Umum -__- . Semenjak kenal mata pelajaran tersebut sampai lulus SMA dulu, tak pernah menaruh minat sedikit pun. Dan ini seolah mimpi buruk ketika harus bertemu kembali dengan fisika di perguruan tinggi.

Kelas bejubel, sekitar 250 orang dalam satu ruangan kelas besar. Dosen berkoar-koar membawakan materi dalam slide. Beberapa materi dapat saya pahami, selebihnya tidak. Dalam keadaan seperti itu, semakin sulit untuk memahami fisika. Beberapa rekan terlihat antusias mengikuti kelas, beberapa lagi ada yang terlihat kurang antusias, seperti saya. Pertemuan demi pertemuan berjalan seperti itu, tugas demi tugas dengan susah payah terselesaikan walaupun belum menemukan mood di mata kuliah tersebut. Di tengah keputusasaan yang ada, saya berujar dalam hati, kurang lebih seperti ini, “ya Allah, kalaupun dapet nilai C tidak apa-apa, yang penting lulus”.

Semester I berakhir, tingkat stress menurun, banyak diantara kami mudik, liburan, atau bersenang-senang. Dan satu yang membuatku bersyukur sekaligus kaget adalah, saya lulus Fisika Umum dengan nilai C. The wish come true.

Itu cerita pertama. Cerita berikutnya tak jauh berbeda. Di semester II saya bertemu dengan mata kuliah Pemrograman Visual. Start yang buruk bagi saya karena, di dua pertemuan awal saya tidak dapat masuk. Liburan semester I dihabiskan terbaring 7 hari di rumah sakit dan 7 hari masa penyembuhan di rumah. Oke kembali ke cerita, saat itu bagi saya pemrograman adalah hal yang asing. Tak ada minat sama sekali di pemrograman. Mata kuliah ini menggunakan visualbasic dan delphi. Tugas pun dengan susah payah dapat dikerjakan dengan bantuan teman-teman. Hampir sama kejadiannya dengan mata kuliah fisika umum, saya berujar di tengah keputusasaan, “ya Allah, kalaupun dapet nilai C tidak apa-apa, yang penting lulus”.

Dan satu lagi keanehan terjadi, saya lulus mata kuliah Pemrograman Visual, dengan nilai C. Ini keajaiban. Bukan saja keajaiban bahwa saya bisa lulus mata kuliah tersebut, namun keajaiban bahwa saya mendapatkan nilai C. Mungkin saya akan mendapat nilai A atau B jika dulu saya benar-benar menginginkan nilai A atau B, tapi waktu itu saya memilih untuk mendapatkan nilai C. Dan itu terjadi.

Mulai saat itu, saya menjadi lebih berhati-hati dalam berharap dan tak akan lagi berharap mendapat nilai C sesulit apapun mata kuliahnya. Walau demikian saya tetap yakin bahwa nilai bukanlah segalanya, namun hanya dengan nilai yang baguslah orang tua di rumah percaya bahwa anaknya belajar dengan benar di universitas. Sambil menyanyikan lagu ‘When I look Into Your Eyes’ dari Firehouse, saya tersenyum dalam hati, “…now I believe that the wishes can come true…”. 

26 Agustus Tahun Kemarin : Sidang Skripsi

Di tanggal ini, pada tahun yang sama, terjadi pertempuran antara mahasiswa lugu yang baru belajar nulis dengan tiga orang dosen penguji. Mahasiswa lugu itu menyerang dengan amunisi utamanya, berupa pemahaman yang ia dapat selama skripsi, hasil penelitian, dan metode penelitian yang dilakukannya. Satu persatu dosen penguji membalas serangan dengan berbagai pertanyaan. Ada yang dapat ditahan dengan mudah, ada pula yang sulit dan menciutkan percaya diri. Keringat dingin mengucur perlahan dan wajah pun memucat. Semua berakhir setelah akhirnya para penguji mengisi map yang berisi form penilaian. Hati tenang, dan fiuuh selesai juga.

8 Jam sebelumnya, di rumah, ibu menyiapkan jas yang telah ia beli khusus untuk sidang hari ini. Sedangkan ayah mencari sepatu yang biasa kupakai lalu menyemirnya. Sedangkan almarhum adik dengan cekatan menyiapkan dasi yang akan dipakai, hanya ia yang bisa menyiapkan dasi, rapi sekali. Saat itu kedekatan dengan keluarga begitu terasa, mereka begitu paham dengan situasi seperti ini. Semua mendoakan, semua menyemangati, menguatkan percaya diri di hati.

Beberapa bulan sebelumnya, tak terhitung berapa kali bolak-balik rumah-kampus-rumah-kampus. Terkadang jauh-jauh datang ke kampus hanya untuk mengedit beberapa paragraf. Terkadang bimbingan hanya berlangsung sejenak, padahal sudah lama-lama menunggu. Pusing dengan bugs yang baru ketahuan. Tidur jam 10 malam untuk bangun jam 1 malam, bug fixing, revisi dokumen, hitung ulang, dan kadang melamun. Gaji sebagai guru honorer pun dihabiskan untuk nge-print draft skripsi yang kalau ditotalkan bisa sampai ribuan halaman.  Tak peduli orang menilai skripsi ini buruk atau baik, yang penting ‘yes, I can do it’.

Rasa lelah, letih, dan segala pengalaman kurang menyenangkan selama mengerjakan skripsi seakan terbayar lunas ketika pengumuman kelulusan. Semua tersenyum bahagia penuh syukur. Bahagia rasanya bisa membuat keluarga bangga dan bahagia akan kelulusan ini. Hal yang istiwema adalah, prestasiku tak pernah seperti ini semenjak TK sampai SMA. ‘Fiuuh, beres juga kuliah, tinggal wisuda’, ujarku dalam hati.

Masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah skripsi.

photo from : Danti

Mengatasi Masalah di Geany : Compilation Failed /bin/sh: javac:not Found

geanyBagi anda developer di lingkungan linux (khususnya ubuntu (khususnya lagi karmic (kebetulan saya pakai karmic))), tentu sangat familiar dengan IDE yang bernama Geany. Simple, ringan, autocomplete, dan tentunya multilanguage. Saya ingin sharing mengenai masalah yang akhirnya secara mudah dapat diselesaikan. Masalah tersebut muncul ketika kita berurusan bermain dengan java. Begini Masalahnya.

Keadaan awal :

  • Java (jdk & jre) telah terinstal via terminal
  • Geany pun sudah terinstal (tentu saja)

Masalah :

Tidak dapat meng-compile program *.java di geany. Ketika memilih menu compile (F8), geany malah macet, tidak mau meng-compile, malah memberi pesan :

Compilation Failed
/bin/sh: javac:not Found

Diagnosa :

Java dalam meng-compile program membutuhkan file yang bernama ‘javac’ (CMIIW). Tetapi pada directory yang menjadi path geany, file javac tersebut tidak ada. Directory path geany yang dimaksud adalah ‘/bin’. Hal tersebut bisa diakibatkan karena directory java tidak berada di ‘/bin’ atau file ‘javac’ belum di-link-kan ke directori ‘/bin’ tersebut.

Solusi :

Mungkin banyak solusi untuk memecahkan masalah ini. Tapi yang saya lakukan berdasarkan hasil googling adalah dengan membuat link file ‘javac’ ke directory ‘/bin’. Itu saja ? ya, itu saja.

Sebagai contoh diterminal tulis saja seperti ini:

sudo ln -s /usr/java/jdk1.6.0_18/bin/javac /bin/

keterangan :

/usr/java/jdk1.6.0_18/bin/javac : directory tempat java terinstal (ini di sistem saya, tiap sistem mungkin berbeda)

/bin/ : directory yang dijadikan path oleh geany

Berhasil deh. Ketika meng-compile program java akhirnya geany gak macet lagi, dan si geany memberi pesan :

Compilation finished successfully.

Oke deh, selamat meng-compile :D

Hasil Observasi : Jenis Mencontek Ketika Ujian

MencontekSebagai seorang tenaga pengajar atau nama lainnya guru, pasti pernah mengawas ujian. Ujian harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, atau ujian yang lain. Jadi begini, hanya ingin share pengalaman ketika melihat tingkah polah peserta ujian yang aneh-aneh, gelisah, resah, dan tak menentu. Sebagian hal yang ditulis di bawah ini adalah hasil pengamatan bagaimana siswa tersebut menangani kegelisahannya ketika ujian berlangsung.

Low-tech

  • Sembunyi-sembunyi : Mengangkat kertas hingga menutupi wajahnya, lalu sesaat kemudian (jreng jreng) mulai deh lirik kiri kanan.
  • Pemberani : Tanpa pakai kertas sang pemberani langsung lirik kiri kanan. Biasanya kalau ketahuan oleh guru, dia langsung pura-pura lihat ke langit dengan akting sedang berfikir (ngakak deh dalam hati )
  • Pakai media perantara : biasanya pakai kertas,  disampaikan langsung atau pakai alibi pinjem serutan.
  • Catatan pribadi : bentuknya berupa buku, tulisan di kertas secarik, atau tulisan di bagian tubuh tertentu.

Hi-tech

  • Pakai SMS : ini sangat lumrah dilakukan, semboyannya : Pensil ditangan kanan, handphone di tangan kiri.
  • Twitter : ini lebih gokil lagi, siswa nge-tweet jawaban ujian pake hastag misalnya #UlanganTIK. Dan wow, semua orang bisa lihat.

Wahai kalian para siswa, sebenarnya orang tua dan guru-guru kalian semenjak SD kelas satu sampai sekarang tidak ingin dan tidak bahagia kalau mereka tahu kalian main curang ketika ujian. Kalian para siswa, tidak boleh mencontek dan/atau bekerja sama ketika ujian, kecuali guru kalian mengizinkan. :D

Wahai anda para guru, kasihanilah siswa anda. Jangan biarkan mereka belajar korupsi sejak dini, kasihan anak-cucu mereka nanti.

Maju terus pendidikan Indonesia !

Wisuda

Wisuda

Setiap mahasiswa pasti ingin segera mengalami yang namanya wisuda, alias prosesi peresmian kelulusan. Alhamdulilah, saya telah di wisuda pada hari rabu 15 desember 2010 kemarin. Itu artinya saya telah menyelesaikan misi saya di tahun 2010 ini. Misi yang empat tahun lalu tertulis di buku roadmap kehidupan saya. Perjuangan terkahir sebelum wisuda adalah skripsi dan sidang skripsi. Alhamdulilah pula, keduanya berjalan lancar. Skripsi bermula di bulan februari 2010 sampai awal agustus 2010 (6 bulan lebih). Sedangkan sidang dilaksanakan pada 26 Agustus 2010. Berkat doa ibu dan ayah serta berkah di bulan ramadhan, alhamdulilah saya dapat melewatinya.

Dilema di saat bahagia

Kenyataan mengatakan lain, bahwa waktu pelaksanaan wisuda ternyata harus berbarengan dengan adik yang masih sakit. Kondisinya tidak memungkinkan untuk ikut ke bumi siliwangi. Setelah diberi pengertian akhinya dia rela untuk tidak ikut. Sebagai gantinya, sebelum berangkat saya berfoto bersama dia terlebih dahulu dengan menggunakan jubah toga. Dia nampak begitu senang.

Prosesi

Saya dan rombongan datang terlalu pagi. Jam 5.30 sudah ada di kampus UPI, tepatnya gedung JICA (FPMIPA). Karena masih sepi, kami bisa berfoto-foto terlebih dahulu. Sekitar jam 7.00 saya dan wisudawan lain yang berasal dari FPMIPA diarak ke gedung gymnasium. Dan di sanalah prosesi dan penyerahan ijazah dilaksanakan. Ngantuk, bosan, dan rasa senang bercampur. :D

Foto-foto

Ini beberapa foto yang berhasil saya dapatkan ketika kegiatan Wisuda UPI Gelombang III tahun 2010.

foto keluarga

masih subuh : kakek, uwa' mas, uwa' iis, mamah, saya, gea (sepupu), irma (sepupu)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

foto jica

(buram) foto bareng ibu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IMAG1082 - Copy

mubaroq, saya, kiki, rifki

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dapat award wisudawan terwibawa sejurusan. (wibawanya sebelah mana ? haha)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

akhirnya : foto sambil lempar topi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harapan

Harapan saya (dan mungkin untuk semua wisudawan) adalah, semoga kami menjadi lulusan yang mabrur dan mabrurah yang dapat berguna bagi banyak pihak. Dan semoga ini bukan wisuda terkahir bagi kami :)

Sepenting Apakah Organisasi Ketika Kuliah ?

Kebetulan sekali saya sempat aktif di organisasi ketika kuliah di pendidikan ilmu komputer UPI. Keterlibatan saya di organisasi lebih tepatnya disebabkan oleh kondisi yang mendesak. Saat pertama kali menginjakkan kaki ke bangku perkuliahan sebenarnya saya telah mengazamkan diri untuk tidak ikut organisasi manapun karena agak kapok.

Kembali ke laptop :D , saya terpaksa aktif menjadi anggota DPM (semacam senat) mahasiswa jurusan, karena tidak ada orang lain lagi di kelas yang bersedia maju sebagai delegasi untuk duduk di DPM. Ya sudahlah, akhirnya saya mulai ngorganisasi. Sangat lugu, karena semenjak SMP sampai SMA tidak pernah aktif di OSIS.

Periode berikutnya, ternyata penderitaan perjuangan masih berlanjut. Selepas pergantian pengurus DPM, saya dipercaya untuk menjadi salah satu kepala departemen di BEM Kemakom.

Saya gak akan bercerita tentang pengalaman selama menjadi aktifis BEM-DPM, karena pasti akan sangat panjang ceritanya :D . Jadi saya fokuskan hanya pada manfaat serta apa yang perlu diwaspadai ketika menjalani kuliah dan organisasi secara bersamaan.

Manfaat ikutan organisasi:

  1. Melatih leadership skill. Bagaimana melatih diri agar dapat menjalankan setiap tugas, bagaimana bekerja sama dengan rekan-rekan, bagaimana mendelegasikan suatu tugas, bagaimana ketika harus mengambil keputusan secara cepat.
  2. Melatih social skill. Ini yang paling lucu, sebenarnya saya bukan orang yang ansos (anti sosial), tapi paling tidak saya termasuk orang yang introvert, tapi dengan bergabung di organisasi, perlahan saya mulai terbuka dengan orang lain. Sehingga kemampuan sosial saya pun terasah.
  3. Melatih public speaking skill. Tidak mudah untuk berbicara di depan orang banyak. Saya pun menyadarinya, tapi dikarenakan tuntutan peran, terkadang saya harus menjadi pembicara di depan umum walaupun untuk waktu yang singkat. Memberikan briefing di depan panitia penerimaan mahasiswa baru, menjadi moderator pelatihan, menjadi moderator seminar, serta memberi sambutan ketika acara pelantikan anggota baru, itu contohnya.
  4. Melatih mempengaruhi orang lain. Tentunya mempengaruhi dalam hal yang positif. Terkadang ada perbedaan pendapat atau pandangan mengenai suatu permasalahan, dan itu harus dipecahkan bersama. Secara bijak kita memang harus dapat menerima pendapat orang lain, tapi di sisi lain jika kita yakin akan pendapat kita, kita harus dapat mengemasnya sebaik mungkin sehingga orang lain dapat menerimanya.
  5. Menemukan sisi lain kepribadian. Saya pun baru menyadari beberapa sifat yang saya miliki ketika diberi penilaian oleh rekan-rekan di organisasi. Kita akan tahu bahwa kita adalah orang yang tegas, cepat tanggap, cuek, atau berwibawa. Rekan kita menilai kita, sehingga kita menjadi tersadarkan bahwa kita memiliki sifat dan potensi yang awalnya kita tidak menyadarinya.
  6. Memperluas jaringan. Dalam bahasa agamanya : menyambungkan tali silaturahmi. Kita menjadi kenal banyak orang, sehingga kalau butuh tumpangan motor kita akan lebih mudah, kalau kita butuh catatan untuk menghadapi ujian kita tinggal pinjam, kalau kita sedang sakit akan ada yang datang menjenguk, dll.
  7. [silahkan tambahkan sendiri...]

Sedangkan yang harus diwaspadai :

  1. Kesehatan. Walau bagaimanapun sebagian waktu yang ada harus teralokasikan untuk kegiatan organisasi. Untuk menjaga agar kesehatan tetap oke, perhatikanlah pola makan dan pola tidur.
  2. Stabilitas perkuliahan. Ini syarat mutlak saya secara pribadi bahwa : organisasi tidak boleh mengganggu kuliah, dan kuliah tidak boleh mengganggu organisasi. Kenapa ?. Kuliah adalah amanah dari orang tua. Organisasi adalah amanah dari rekan-rekan. Sama-sama harus dijaga. Resikonya : mengurangi waktu main, waktu tidur, dan waktu pacaran (kalau yang laku :D )
  3. Skala prioritas. Terkadang jadwal kuliah dengan jadwal rapat bentrok, nah di sini silakan pertimbangkan mengenai skala prioritas keduanya. Mana yang lebih penting, mana yang bisa diwakilkan, mana yang tidak dapat ditinggalkan. Memang berat, tapi tetap harus memilih.
  4. [silahkan tambahkan sendiri...]

Saya memang tidak terlalu berpengalaman dalam hal mengurus organisasi, namun setidaknya point-point yang telah diutarakan tadi adalah hal yang telahsaya rasakan.

Selamat BERJUANG wahai para aktifis :)

Kaos Yang Salah Tempat : Merubah Style

Beberapa hari sebelum perkuliahan pertama dimulai, saya iseng jalan-jalan ke kampus dan menyempatkan mampir ke ruang tata usaha ilmu komputer di gedung JICA. Nampak masih asing lingkungan tersebut. Hampir tidak ada orang yang saya kenal. Oke tak apa-apa saya percaya diri saja dengan kaos merah dan celana panjang yang tak resmi. Saya masuk ke ruangan tersebut dan menanyakan berbagai hal untuk mencoba PDKT dengan para penguni ruangan prodi.

Salah satu petugas ruangan tersebut memastikan bahwa saya adalah mahasiswa baru. Saya dibentak, dibentak di depan beberapa senior yang ada di ruangan tersebut. Mereka sontak mengarahkan pandangannya ke arah saya. Alasannya simpel, saya pakai kaos oblong merah yang tetap terlihat rapi padahal. “Lanceuk maneh ge teu make kaos, naha ari maneh”. Beliau mengatakan bahwa senior saja gak ada yang berani pakai kaos tapi saya malah pakai kaos.

Oke deh, saya hanya tersenyum sambil berharap ada senior baik hati yang meminjamkan jaketnya untuk saya pakai sementara waktu. Dari sana saya belajar untuk berpakaian rapi menggunakan kemeja -karena saya gak punya kaos berkerah- jika akan masuk ke ruangan prodi. Saya tidak menggerutu dan mendebat petugas yang menegur padahal saya yakin di sana tidak ada peringatan tertulis mengenai pelarangan menggunakan kaos di dalam ruangan. Saya pun sebenernya bisa berdalih dan beralasan bahwa saya adalah mahasiswa baru yang wajar kalau salah.

Dan, mungkin peristiwa inilah yang membuat style berpakaian saya lebih resmi -tidak terlalu casual seperti kebanyakan mahasiswa baru- dengan kemeja dan celana panjang non-jeans. :D

Koran Pembawa Kabar

Saya masih ingat ketika pagi-pagi sekali disuruh beli koran untuk melihat pengumuman hasil SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru). Sebenarnya saya tidak terlalu antusias untuk mengetahui hasil SPMB, apakah diterima atau tidak. Setelah membeli koran di kios agak jauh dari rumah, saya buka koran halaman perhalaman untuk melihat daftar peserta SPMB yang masuk ke universitas yang diinginkan. Setelah tak lama mencari akhirnya ketemu juga nomor peserta dan nama saya. Saat itu tak banyak yang dilakukan, saya langsung berbaring sambil berkata “alhamdulilah”.

Orang tua dan adik masih belum yakin, mereka bertanya-tanya, saya masih diam tak banyak bicara. Setelah itu saya tunjukkan bukti diterimanya saya masuk universitas negeri yang diinginkan. Mereka pun bersorak-sorai sambil secara reflek memeluk seraya berujar “sujud syukur, sujud syukur”. Kami pun bersujud syukur dan bergembira.

Walaupun diterimanya di UPI melalui SPMB bukan menjadi target utama saya -remaja kemarin sore yang penuh ambisi- tapi saat itu yang ada di pikiran adalah keyakinan bahwa ini semua adalah yang terbaik yang diberikan Sang Khalik. Saya mensyukurinya, toh kuliah itu bukan DIMANA tapi GIMANA. Saya langsung bergegas mempersiapkan diri untuk mencari informasi mengenai tata cara pendaftaran.